Senin, 08 September 2014


BilChell LOVE STORY
BAB 43



Hari sudah sore, Micehlle tengah merapikan dokumen-dokumennya, billy merapikan berkasnya. Setelah beres, billy keluar dari ruangannya. Dia menunggu michelle dimejanya, meja michelle begitu berantakan banyak berkas dan dokumen saat michelle akan mengembalikan dokumen ke raknya michelle kepayahan karena dokumen itu begitu berat. Dengan sigap billy meletakkan tasnya dan membantu michelle membawa dan meletakkan dokumen ke raknya, Michelle menatap billy heran. “kesambet setan apa nih cowok kok jadi baik gini..” batin Michelle heran

“lelet amat sih loe.. “ katanya “ ngapain loe malah liatin gue.. cepat beresin itu meja loe..” kata billy sambil menyusun Dokuman, Michelle cemberut “gue tarik lagi kata-kata gue yang bilang billy baik..” kata michelle dalam hati.

“udah??” tanya billy michelle mengangguk, “Ayooo..” katanya lagi dan michelle pun melangkah berjalan disamping billy

“loe mau kemana Bill???” tanya Eza

“”ada kerjaan luar..” kata Billy singkat

“nanti malam Loe enggak pergi ke...” belum selesai Eza bicara billy sudah memotong..

“pergi.... kita ketemu disana yah ???” kata billy sambil berlalu pergi, dia mengendeng tangan michelle. Eza kenal dengan Gio pasti Eza juga diundang Gio. Pikir Billy.

“gue bisa jalan sendiri.. gak perlu di gandeng..” kata Michelle

“Abis loe lelet sih..” kata Billy cuek, masih tetap mengandeng michelle.

Para karyawan menatap heran, sebenarnya dari tadi mereka sudah memandang billy dan michelle saat billy membantu michelle membersihkan mejanya. Selama berapa lama bekerja dengan billy mereka tak pernah melihat billy sebegitu perhatiaan dengan wanita apalagi bawahannya. Billy cendrung cuek dan menjaga wibawa, liat ajah sikapnya dengan Ariel. Mereka jadi binggung katanya si Bos pacarnya si Ariel nenek sihir itu, (Mereka memang suka sebel dengan Ariel, belum jadi nyonya ajah udah sok ngebosi.. hobby nya marah marah.. padahal baru pacar... ) makanya melihat Billy dan michelle mereka jadi malah mendukung, Michelle anak yang baik dan supel, dia pintar dan tidak sombong. Tapi  mereka tetap binggung. Dan akhirnya mereka Jadi teringat berita yang beredar di kantor bahwa pak billy sudah bertunangan. Mereka menatap Eza, penasaran, mau nanya, tapi segan, kalau dengan Pak billy mana berani mereka bertanya, bisa-bisa disuruh lari keliling lahan proyek. Bisa masuk kubur kalau harus lari keliling lahan yang berhektar-hektar itu. karena rasa penasaran yang membuncah, dan setelah aksi senggol-senggol satu sama lain, sambil senggol-senggol mereka memilih utusan siapa yang harus bertanya, akhirnya poling memutuskan Rony lah orangnya. Nasib sial karena Rony duduk paling ujung jadi dia tak tau harus nyenggol siapa.

“kenapa kalian liat aku gitu,,,” kata Eza heran ditatap oleh anak buahnya.

“ehhh..ehemm” kata roni berdehem, padahal tenggorokannya gak gatal. “mas.. Pak Billy dan michelle pacaran yah??” akhirnya keluar juga pertanyaan itu. Eza menatap lekat bawahan-bawahanya satu persatu, mereka menatap Eza dengan penuh rasa penasaran.

“menurut kalian???” Eza malah balik nanya.

“kalau diliat dari tatapan dan sikap pak billy sih kayaknya iyaaa..” kata Hendrik

“memangnya sikap billy gimana??” Eza malah jadi yang banyak nanya

“itu kayak tadi, mana pernah pak billy segitunya ama bawahan... perhatian banget...  memang sih pak billy suka marah-marah dan nyiksa michelle dengan kerjaan yang banyak... tapi kalau diperhatiin pak billy gak pernah lupa dengan jadwal makan Michelle, kalau disuruh kemana-mana malahan disuruh pake mobilnya..” kata Rony semangat, “kalau kita mana dibolehin pake mobilnya... iya kan Jek..” tiba-tiba jeki lewat, dan dia hanya mengangguk, teringat kejadian kemaren saat dia membawa michelle dan dijadiin mata-mata.

“mungkin karena Michelle kan perempuan.. kalian cowok..” kata Eza membantah, sebenarnya Eza juga menyadari perubahan sikap billy, perlakuan billy terhadap michelle itu berbeda dengan cewek lain bukan Cuma Areil bahkan cewek-cewek manapun yang pernah dekat dengan billy. Biasanya billy selalu cuek pada cewek. Tapi dengan  michelle begitu berbeda.

“trus ada rumor yang beredar dikantor... katanya pak billy udah tunangan... “ kata si gembul jono.

“dan tunangannya gak mungkin si nenek sihir Ariel.. buktinya ditangannya gak ada cincin” kata hendrik  kebablasan, yang lain menyenggolnya, dia menutup mulutnya, Eza heran

“nenek Sihir???” kata Eza heran tapi bibirnya tersenyum “kok kalian bilang Ariel nenek sihir???” tanya Eza

“iyaa mas... itu cewek belum jadi nyonya bos ajah udah ngebosi... hobbynya marah marah ama  perintah-perintah..” kata jono  “ dan yang bilang dia nenek sihir bukan kita ajah, tapi seluruh kantor juga bilang...” tambah jono semangat, sekalian curhat. Sebenarnya Eza menyetujui pendapat mereka, Dilihat dari mana pun michelle jauh lebih baik dari Ariel, dia sedikit heran, Ariel kenapa mau dan tak berontak lagi saat dia tau kalau jika billy tak bertunangan dengan michelle dia akan dicoret dari hak waris... dia malah cendrung setuju..pikir Eza, jelas banget apa yang dia kejar. Dan anehnya kelihatannya billy juga gak terlalu suka dengan Ariel, tapi herannya kenapa dia pacaran dengan Ariel?? Dan saat dia bertunangan kenapa dia tidak memutuskan saja si Ariel?? Sama dengan karyawannya sebenarnya dia juga binggung dengan kisah cinta sahabatnya.

“iyaaa... gak mungkin si Ariel itu.. jangan-jangan malahan Michelle???” kata Ronny, mereka malah saling pandang.

“kenapa kalian bisa nyimpulin michelle???” tanya Eza

“Di jari manis michelle ada cincin, dan modelnya hampir sama dengan pak billy...” kata hendrik lagi. Jeki hanya manut manut 

“masuk akal... kalau enggak ngapain coba itu Mbak michelle sampe diawasin segala..” kata Jeki dalam hati, Eza melihat jeki manggut-manggut.

“Bener gak mas..” tanya mereka lagi koor, sadar dari tadi Eza tak menjawab pertanyaan mereka, malahan Eza yang banyak nanya.
“jawab dunk mas.. “ minta mereka cemas, eza heran melihat kecemasan mereka

“katanya kalian lebih dukung michelle, tapi mukanya kok cemas gitu..??” tanya Eza

“ takut juga mas kalau dia itu calon Nyonya bos... aku pernah bentak michelle pas pertama ketemu..” kata Hendrik

“Aku malah pernah nyuruh-nyuruh michelle..” kata Jono

“ahhh kalau gitu aku yang paling aman... aku baik dengan michelle malah sering –bercanda bareng... dia itu Nice sih mana bisa marah-marah sama dia..” kata Rony senang

“aku pernah liat kamu, pernah noel pipinya michelle kan??? Terus michelle itu terkesan dekat ama kamu juga???” tanya  Eza, Rony mengangguk, memang iya diantara yang lain Michellle paling dekat dengan Rony.

“jutru posisi kamu tuh yang gak aman Ron..” kata Jeki nyeletuk, Eza diam, menatap Jeki, sepertinya Jeki tau  sesuatu..

“kok??? Sok tau loe jeki” tanya Rony mencibir tapi agak khawatir juga.

“bener,  kata Jeki.. Billy itu cemburuan loh... kalau dia tau kamu pernah noel pipinya Michelle.. bisa –bisa kamu dikirim ke timika..” kata Eza, Ronny pucat, Eza tersenyum melihat Rony, Jaki manggut-manggut lagi. “itu kalau michelle tunangannya billy.. kalau enggak yah kamu aman..” kata Eza kemudian dan meningglkan mereka

“yaahhh mas Eza ini.... jadi bener gak michelle itu tunangannya pak billy???” tanya mereka koor lagi, eza tersenyum penuh arti, dan menganggkat bahu

“liat ajah nanti,,, tapi kalau kalian penasaran banget kalian bisa tanya ama Billy langsung..” kata Eza tersenyum mengooda mereka.

“yaaahhhh... Mas Ezaa ...”  kata mereka koor,

“nanya ama pak billy sama ajah teken surat kematian atau Surat PHK... “ kata Jono memelas,  Eza tertawa puas. Lucu juga neh anak buahnya, cowok-cowok hobby ngerumpi.

Jeki pun meninggalkan arena rumpian itu, dia tadinya mau kepentri karena rumpian itu dia mampir  sebentar sekarang dia kepentri lagi. Dipetnri sudah ada Eza. Eza menatap Jeki lekat.

“jeki.. kok kamu tau pak billy cemburuan...???” kata Eza menyelidiki

“anu mas... nebak ajah..” kata nya berbohong, Eza tau ada yang ditutupi Jeki. Dia menatapnya lekat, ditatap seperti itu akhirnya Jeki angkat bicara, toh mas Eza pasti gak bakalan ngebocorin, dia kan sahabat baik si Bos.

“kemaren saat saya ngantar Mbak michelle itu, pak billy selalu nelpon saya atau sms saya tiap 2 jam sekali mas..” kata Jeki akhirnya

“untuk apa??” tanya Eza heran.

“untuk ngecek keadaan Mbak michelle, dengan siapa dia ketemu, trus dia lagi dimana..”kata Jeki, Eza membulatkan matanya kaget

“aahh.. yang benar kamu... “ kata Eza tak percaya

“bener mas... saya berani sumpah..” kata Jeki serius, eza takjub, benar Jeki itu anaknya jujur, dia gak mungkin bohong.

“gillaaa... ‘kata Eza akhirnya

“mas jangan bilang sama siapa-siapa... nanti saya dimarahin pak billy...” mohon jeki

“iyaaa.. kamu tenang ajah...” kata Eza menepuk pundak jeki dia pergi keruangannya, ini benar benar gila, Billy bisa obsesif begitu... ngecek tiap dua jam sekali??? , ooh yaaa.. waktu itu aku sempat melihat dia beberapa kali sibuk dengan telponya, dia yang biasanya selalu serius dengan kerjaan tapi saat bertemu rekanan kemaren itu,dia sibuk mengotak atik Hpnya. Jadi yang dia telpon dan SMS itu si Jeki dan itu untuk ngecek Michelle??? Eza shok... tak menyangka billy bisa bersikap seperti itu. tapi kelihatannya dia belum menyadari rasanya terhadap michelle. Sahabatnya yang jenius itu memang suka lambat kalau urusan asmara.

Billy dan michelle sampai di halaman sebuah Spa, michelle memandang heran, “kita ketemu Klien di Spa ini??? Tanya Michelle

“enggak... gue cape, jadi mau ke spa dulu, abis itu baru ketemu rekan gue..” kata Billy cuek.

“kalau gitu gue ngapain disini??” tanya Michelle binggung, soalnya itu spa khusus cowok

“loe bisa ke spa sebelah..itu spa khusus cewek..’ kata Billy, Michelle masih binggung, “udah gak usah binggung.. pergi ajah kesana..” kata Billy mendorong michelle, michelle pun nurut dan masuk ke spa itu, Billy tersenyum, “gimana mau kepesta kalau gak mandi..”batinya.

Sejam kemudian Billy dan michelle keluar dari tempat Spa, saat michelle keluar billy sudah menunggunya didepan Pintu. Mereka berjalan bersama menuju mobil. Bberapa menit kemudian mereka tiba di Mall XXX. Michelle mengeluarkan berkas berkas,

“gak usah dibawa, taro di mobil ajah berkas-berkasnya,” kata Billy

“Loh,,, kita kan mau ketemu Klien,,,,??” tanya michelle heran, dia mengernyitkan keningnya heran

“belumm.. nanti.. “kata Billy singkat dan menarik tangan Michelle dan mengandengnya.

“billy lepasin... gue gak perlu digandeng...” kata michelle mencoba melepaskan gandengan tangan Billy

“loe itu jalannya lelet.. kalau gak digandeng nanti loe ketinggalan dan ilang...” kata Billy, michelle cembertu

“memangnya gue anak-anak apa??? Pake bisa ilang segala..” kata Michelle sebel. Billy hanya tersenyum, tapi dia tetap mengandeng tangan michelle, michelle pun akhirnya pasrah. Billy berjalan menyusuri mall dengan tangan masih mengangdeng tangan Michelle dia berjalan berlahan, masuk toko satu ke toko yang lain. Michelle binggung tak tau apa yang dia cari.

“sebenarnya loe cari apa sih..??” kata michelle akhirnya

“gue cari baju buat ke acara temen gue..” kata billy santai.

“acara apa??” tanya michelle

“acara ulang tahun..” jawab billy, michelle pun ikut mencari baju untuk billy dan tidak berapa lama dia membawa kemeja kotak kecil berwarna hitam garis coklat .

“ini ajah.. acaranya santai kan??” tanya michelle billi mengangguk. Dan billy pun pergi kekamar pas, dan tapi sebelumnya billy mengambil jeans hitam. Beberapa menit kemudian billy keluar, dia kelihatan tampan dengan stelan itu, michelle jarang memang melihat billy memakai pakaian santai, dia selalu melihat billy dengan pakaian kantor dan rumah. Bukan hanya michelle, para pengunjung dan pelayan toko pun takjum melihat ketampanan Billy. Mereka berbisik-bisik,

“ayoo... “ kata billy memegang bahu michelle, michelle menatap billy heran

“kok langsung loe pake..??” tanya michelle heran

“acaranya itu malam ini..” kata Billy singkat “gue udah oke kan... ??” tanya billy lagi, sebelum kekasir michelle meraih jaket kulit coklat tua, Billy menatap heran

“untuk siapa??” tanya nya, bukan malah menjawab, michelle malah merentangkan jaketnya dan menyuruh billy memakainya, melihat isyarat mata michelle yang menyuruhnya memakai jaket itu, Billy pun memakainya, dan michelle tersenyum puas, Billy tambah kelihatan tampan. Michelle merapikan kerah jaket billy. Billy senang melihat michelle berdiri didepannya dan merapikan pakaiannya. Semua orang menatap mereka, billy tak mempedulikan tatapan meraka, dia bahagia. Begitu juga michelle, Reflek dia merapikan kerah kemeja dan jaket yang dikenakan billy, semua orang menatapnya, dia sadar ditatap, tapi dia menikmati tatapan itu. Setidaknya sekarang dia sedang ditatap bersama laki-laki tampan, cewek-cewek yang menatapnya pasti iri padanya.  Setelah selesai merapikan baju billy Michelle menatap billy sambil tersenyum manis, deg... jantung billy berdetak kencang melihat senyuman michelle, billy pun segera menarik michelle kekasir dan setelah membayang mereka pun pergi, billy lagi-lagi masih mengangdeng michelle, sekarang michelle tak lagi menolaknya. Dia jalan dengan tenang disamping billy. Billy mengajaknya masuk di conter baju cewek brand terkenal.

“ngapain sih loe kok masuk sini.. ini kan baju cewek....??” tanya michelle heran, billy tak menjawab dia melepaskan tangan michelle, dan berjalan mengelilingi counter. Billy berjalan diikuti pelayan toko.

“ini... ini.. terus ini.. lalu ini.. dan itu..” billy menunjuk 7 baju dan billy serta pelayan itu berjalan menuju Michelle. “nih,,, loe coba semua baju ini..” kata billy menunjuk tumpukan baju ditangan sang pelayan.

“untuk apa??’ tanya michelle heran

“yah kita pergi ke tempat ultah teman gue dong..” kata billy

“tapi..” kata michelle ragu

“udah jangan bantah..” kata billy tegas, “apa mau gue yang pakein..” kata billy tersenyum nakal, reflek Michelle menyilangkan tangannya kedadanya.

“jangan mesum dong billy..” kata michelle kesal, tapi dia menuruti juga Billy, dia pun memasuki kamar ganti dan menganti pakaiannya.

Baju pertama, billy memandangnya lama, setelah itu dia mengibas-ngibaskan tangannya tanda tidak setuju dan langsung menyuruhnya menganti pakaian.

Baju kedua, ekpresi billy juga sama, ketiga keempat bahkan sampai ketujuh semua sama, tak ada yang berkenan dihati billy.

“bawa koleksi terbaru ..” kata billy pada manajer tokonya. Michelle cemberut dia sudah lelah dan pegel

“ gimana kalau yang ini ajah deh.. “ kata michelle memohon, Billy menggeleng, michelle tambah cemberut. Sang manajer datang bersama anak buah nya membawa beberapa koleksi baju, michelle maju

“biar gue aja yang pilih..” kata michelle tegas,

“pake aja semuanya...” kata Billy,

“tapi gue udah cape .. semuanya gak ada yang loe suka..” kata michelle kesal,

“abis loe jelek banget... masak semua baju bagus ini gak cocok di badan loe..” kata Billy mengejek. Michelle kesal mendengar perkataan billy

“ya udah kalau gue jelek.. loe gak usah ngajak gue..” katanya merajuk dan mau beranjak pergi, tapi billy mencegahnya.

“tunggu.. gitu ajah ngambek..” kata billy menggoda michelle.

“Gue gak mau nyoba semua... biar gue yang pilih bajunya..” kata michelle sebel, billy pun akhirnya mengangguk mengalah, dari pada michelle ngambek pikirnya,sebenarnya semua yang dipakai michelle bagus-bagus dan cocok di badan michelle, billy terkesima menatap michelle. Karena semuanya cocok jadi billy ingin melihat michelle mencoba semua baju yang ada ditoko ini. Michelle sudah menentukan pilihannya dia pun masuk ke kamar pas. Dan beberapa saat dia keluar dari kamar pas, billy menatap michelle tak berkedip. Michelle memelilih dreas hitam terusan lengan pendek, atasnya terbuat dari kain brokat coklat senada dengan jaket billy. Dreas itu terbuat dari kain sifon sutra, bawahnya di bentuk sirkle kembang, panjangnya selutuh sehingga kaki mulus michelle kelihatan. Billy menatap michelle takjub, “billy..” panggil michelle meminta keputusan

“yang ini ajah..” katanya singkat, michelle lega, billy menjentikkan carinya, datang pelayang dengan 3 model highheell,  michelle memilih Highhell warna coklat, tumitnya tidak terlalu tinggi, sangat cocok dengan dreas dan kaki michelle terlihat seksi.

“Nona ini selera fasionnya bagus...” kata sang manajer, Michelle hanya tersenyum. Dan dia membisikkan sesuatu pada si mbak sang manajer. Billy henya menatap binggung

“kenapa?? “ tanyanya heran

“enggak  ada apa-apa hanya soal urusan perempuan..” kata michelle datar. Si Mbak menajer itu pun kembali membawa kotak ukuran kecil, dan michelle pun masuk ke dalam kamar pas lagi, diikuti sang manajer. Billy hanya menatap binggung tidak berapa lama, michelle pun keluar. Michelle kelihatan sempurna dengan dandanan naturalnya, matanya hanya disapu celak dan ayeliner, bibinya dipoles dengan lipstik warna peace, rambut michelle diikat ekor kuda, sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Billy tak henti-hentinya menatap dan terkagum-kagum, bukan hanya billy, manajer, pelayan toko dan para pengunjung juga mengagumi kecantikan michelle, meski dengan kacamata tapi tidak bisa menghalangi pesona michelle. Billy tersenyum senang dan bangga, dia memberikan lengannya untuk digandeng michelle. Semua mata memandang mereka takjub, orang-orang berbisik-bisik,

“serasi banget mereka...” terdengan celetukan tak tau siapa yang bicara, mendengar itu, billy dan michelle berjalan dengan bangganya dan bahagia.  Billy menyetir mobilnya, seringkali dia melirik dan manatap michelle.

“udah deh billy.. muka gue bisa berlubang kalau loe liatin terus...”kata michelle “lagian loe itu kalau nyetir liat kedepan dong..bahaya tau” tambah michelle lagi dan dia mengembalikan posisi leher agar billy menatap kedepan, billy hanya tersenyum begitu juga michelle. Setelah billy fokus menyetir, giliran michelle menatap billy.

“gue tau kalau gue memang kece.. tapi loe jangan liatin gue terus, nanti muka gue luntur.,,,” kata billy, dipergok billy michelle pun memalingkan wajahnya yang bersemu merah, deg.. lagi lagi jantung billy berdetak kencang, “aahh begitu manisnya..”batin Billy, “kalau bukan karena sedang nyetir, sekarang ini cewek pasti gue peluk..” kata Billy dalam hatinya.

Dirumah Shilla, indra sedang membujuk Shilla pergi ke pesta ultah temannya. “ayoo dong Shill, temenin gue,,” rengek Indra. “michelle pasti juga datang dibawa billy..” tambah indra, mendengar kata michelle, Shilla mulai bergeming

“Ariel dan Sheilla diundang..” tanya Shilla

“kayaknya diundang.. Gio kan sepupunya  ludya...” kata indra,

“kasian juga michelle...” pikir Shilla, “ya udah gue ganti baju dulu... “ kata Shilla. Indra tersenyum bahagia,  beberapa menit kemudian Shilla muncul dengan dreas, dia kelihatan cantik dan feminin, apalagi rambutnya digerai, dan sedikit polesan celak dan lipstik. Indra tertegun, biasanya Shilla terlihat tomboy tapi malam ini dia begitu manis.

“ayooo..” kata indra semangat dan mengandeng tangan Shilla

“gue gak perlu digandeng kaliii Indraa..” kata Shilla datar

“tapi gue mau..” katanya tak mau melepaskan tangan Shilla. Indra tersenyum bahagia.

Didalam mobil tamara, Ariel duduk dengan wajah cemberut, “kenapa sih loe dari tadi cemberut ajah???” tanya Tamara., Ariel hanya diam, “apa karena Loe gak bisa pegi sama Billy???” tanya tamara lagi, lagi-lagi Ariel Cuma diam

“mungkin Billy sedang sibuk, Loe pasti deh ketemu sama Billy disana... kalau gak salah Ludya bilang Gio itu temennya billy saat di LN..” kata Tamara lagi, wajah Ariel jadi tambah kesal, justru itu yang membuat Ariel marah, Billy tak mengajaknya, dan saat tadi dia menelepon Billy, Billy sedang di Mall,

“haloo...” sapa billy, sebenarnya enggan mengangkat tapi kalau enggak dianggkat Ariel bakal terus meneleponya dan itu sangat mengganggunya.

“Sayang... nanti temenin aku ke pesta Ultahnya sepupu Ludya yah..” kata Areil

“Sorry Gue gak bisa.. Gue ada acara Ultah temen Gue..” kata Billy yang tak tau kalau Gio itu sepupu Ludya,

“Temen kamu Gio kan?? ..” tanya Ariel

“Ya.. loe tau dari mana..???” tanya billy heran

“Dia kan sepupunya Ludya...” kata Ariel, wah gawat juga neh, batin Billy, tapi ahh gak peduli, aku gak mungkin ninggalin michelle, kata billy dalam hatinya, michelle memang sedang berada dikamar pas.

“kita pegi bareng yah sayang..” kata Ariel

“Sorry gue udah dijalan menuju ke tempet Gio, loe pergi sama yang lain ajah..” kata Billy menutup telponnya, Michelle sudah keluar dari kamar pas. Ariel begitu kesal. Dia pun menelepon Indra,

“Loe jemput gue yah jam 8 malam, kita pergi bareng ke acara Ultah sepupu ludya Gio...” kata Ariel memerintah

“Sorry Riel, gue pergi bareng Shilla...” kata Indra menolak, Ariel kaget, indra tak pernah menolak perintah dan keiinginannya

“Kayaknya loe lengket banget udah sama si cupu sahabatnya si udik itu..” kata Ariel Sinis

“bukannya loe yang nyuruh yah supaya gue dekat sama dia, dan biar gue gampang ngorek info tentang Michelle??” kata Indra, Ariel diam “Udah yah.. Shilla datang tuh..” kata Indra memetuskan Telponya, percakapan iu terjadi sebelum Indra membujuk Shilla, entah kenapa indra tidak ingin lagi menuruti segala keinginan Ariel. Dia mau Ariel menghargainya, seperti Shilla menghargainya, sekesal apapun, semarah apapun Shilla, Shilla tak penah mengabaikkannya, walapun bicaranya galak, tapi saat indra datang Shilla selalu mau menemuinya.bahkan dari saat pertama dia dekati dulu,

“kalau loe gak suka ama gue kenapa loe masih mau menemui gue gini..” Tanya Indra dulu

“loe datang kerumah gue, dengan maksud menemui gue, setidaknya gue harus menemui loe dan ngusir loe..” kata Shilla waktu itu.

Ariel begitu kesal, Billy yang mengabaikkannya, sekarang bahkan Indra juga ikut mengabaikan Ariel. Tamara melihat raut kesal diwajah Ariel memilih diam dan tak ingin menggubrisnya.

Di mobil Eza, Sheilla hanya diam memandang keluar jendela, Eza meliriknya binggung dengan keheningan Sheilla

“kamu kenapa Shiella??? Kok dari tadi diam ajah??” tanya Eza

“aahh...gak papa kok kak..” kata Sheilla menoleh menatap Eza dan tersenyum manis padanya.

“oyaa.. tante Amara apa kabar??? Baik??” tanya Eza, ada kilatan kesedihan dimata Sheilla, tapi dia berusaha menahannya agar eza tak akan pernah tau lukanya.

“baik... baik banget malahan..” katanya tersenyum manis, dan kemudian memendang lurus ke jalan, teringat saat-saat ibunya sedang bermain bersama Michelle. Eza menatap Sheilla lekat, mencari dan mencoba menjabarkan pikiran Sheilla tapi Eza tak berhasil. Dan Akhirnya perjelanan mereka pun dihiasi dengan keheningan.

Direstoran hotel Mized sudah disulap jadi tempat pesta anak muda, panggung musik, lilin-lilin dan lampu dansa menghiasi ruangan, ruangan telah dipenuhi olah tamu-tamu undangan si empunya pesta sibuk menyalami tamu tamu, muncul Eza dan Sheilla bersamaan dengan Ariel dan Tamara. Mereka berjalan menghampiri gio dan mengucapkan selamat. Memudian muncul Eza dan Sheilla.Eza dan Sheilla juga mengucapkan selamat dan  Tidak selang berapa lama muncul Indra dan Ashilla or Shilla, Indra menuntun Shilla berjalan  menemui Gio,

“heii.. Bro... selamat Ultah yah...” kata Indra menyalami Gio dan memeluknya,

“Thanks Bro... iniii....???’ kata Gio sambil melihat Shilla, Shilla tersenyum

“ini Shilla..” kata indra mengenalkan, Gio tersenyum dan mengulurkan tangannya, Shilla menyambut tangan Gio dan menyalaminya. Kemudia Gio berbisik di telinga Indra “Waahh,,, Tipe loe udah berubah yah.. ??? biasa yang seksi.. sekarang yang Nice..” Bisik Gio, Indra Cuma tersenyum.

Dan saat mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba muncul Billy dan Michelle, seketika semua orang menatap mereka, Michelle mengandeng tangan Billy, orang-orang berbisik dan menatap billy dan Michelle takjub, tidak terkecuali sahabat-sahabat mereka, Shilla tersenyum bahagia, Eza menatap michelle takjub, michelle begitu manis malam ini, Sheilla menatap tak peduli, dan Ariel pastinya menatap dengan marah.

Michelle dan billly masih berjalan, billy mencari sosok Gio, dan saat menemukannya dia pun berjalan menuju Gio, michelle mengikuti langkah Billy, dan saat dia melihat orang-orang disekitar Gio, Eza,  Sheilla, indra, ada Shilla juga batin Michelle senang, dan ternyata Ariel juga. Reflek Michelle melepaskan tangannya dari lengan billy, billy kaget, dia menatap michelle yang berhenti. Dan tampa aba-aba billy malah mengambil tangan michelle dan mengandengnya. Michelle mencoba melepaskannya

“Billl.. ada Ariel,,, lepasin gue..” kata Michelle sedikit memohon, tapi Billy tak mendengarnya, atau pura-pura tak mendengar, dia terus mengandeng tangan Michelle. Ariel sudah begitu kesal dan marah memandang pemandangan itu, api dia menahannya, indra melirik dan menatap Ariel, tampa indra sadari Shilla melihat indra yang sedang menatap Ariel, tapi dia berbalik menatap sahabatnya lagi yang begitu cantik malam ini, Shilla tersenyum bahagia. Michelle memegang tangan Shilla saat mereka sudah dekat, mereka saling peluk.

“Selamat Ultah Brother..” kata Billy menyalami Gio dan memeluknya,

“makasih Bill...” kata gio senang,  “jadi mana??” tanya Gio , Billy tersenyum, billy mundur dan merangkul pinggang michelle, michelle yang akan bicara dengan Shilla kaget.

“ini.. “ kata billy tersenyum “tunangan gue..” kata Billy lagi

“woooowwww...” kata gio memandang michelle, “gue gio temen Billy di LN...’” kata gio menyulurkan tangan pada michelle

“Michelle...” kata michelle, membalas ururan tangan Gio, Gio menatap michelle lekat

“eitss... jangan lama-lama salamannya..” kata Billy melepaskan tangan Gio

“Aahh.. michelle kamu manis banget...” kata Gio, gio orangnya memang ceplas-ceplos “loe beruntung Bill...” kata gio tertawa dan billy juga tersenyum. Michelle bener-bener gak habis pikir dengan Billy, apa dia gak liat si Ariel??? kenapa dia bereaksi berlebihan begini??? ,pikir michelle, “Oh Tuhan.. apa aku bisa pulang dengan selamat malan ini???” batin michelle cemas, saat melihat mata ariel yang penuh kemarahan, mata itu seakan siap untuk membunuhnya.

“michelle.. loe kenapa ???” bisik Shilla saat melihat michelle cemas

“liat deh si Ariel, kyknya dia mau bunuh gue.. loe jangan jauh-jauh dari gue yah..” kata Michelle, Shilla menatap Ariel, dan Shilla  tersenyum melihat michelle

“pengecut ah loe... lagian si AA billy pasti bakalan jagain loe kok...” kata Shilla menggoda, michelle cemberut mendengar perkataan Shilla

“mana mungkin dia jangain gue..’” kata Michelle mencibir,

“selamat yah Broo..” kata Seseorang cowok dibelakang Billy, semua mata menoleh ternyata, rangga

“Aahhhh Rangga.. apa kabar??” kata Gio memeluk rangga, Rangga tersenyum

“loh.. loe kenal rangga juga??” tanya Billy

“Iyaa.. Rangga ini temen SMA gue..” kata Gio “Loe kenal rangga juga??” tanya Gio pada Eza

“Gue kenal rangga di LN, dan sekarang dia rekan bisnis gue dan Billy..” kata Eza

“ahhh.. ternyata dunia begitu kecil...” kata gio, dan mereka tersenyum senang,

Rangga tersenyum menatap Michelle, seperti biasa dia terlihat anggun dan manis, Michelle juga tersenyum pada rangga, melihat itu billy menghampiri michelle dan memeluk pinggang Michelle, Michelle lagi kaget.

“liat kan..?? gak bisa jauh malahan, loe tenang ajah ada tunangan loe.. loe pasti aman..” kata Shilla berbisik dan tersenyum, Billy mendengar bisikan Shilla dan tersenyum padanya, dia membulatkan tangannya tanda Oke, Shilla tersenyum.

“billy ... lepasin... loe gak liat ada Ariel disana??” bisik michelle, bukan malah melepaskan tangannya Billy malah memeluk erat dan menunduk membisikan sesuatu ditelingan michelle

“Status loe disini adalah Tunangan Gue... jadi loe harus bersikap sebagai tunangan gue.. jangan senyum-senyum dengan cowok lain..” kata billy, michelle diam menatap Billy binggung

“Aduuhh... jangan mesra-mersaan dunk Bill.. bikin gue yang jombo ini sedih ajah..” kata Gio menggoda billy dan michelle, Billy terseyum mendengar Gio.

Billy masih merangkul michelle erat. Dan menatap Rangga tajam, dia tak bisa menahan diri lagi, “rangga harus tau, Michelle tunangan Gue.. She is my mine..” batin billy tak peduli, Ariel begitu marah, tamara dan ludya memegangnya, takut ariel meledak histeris. Tapi Ariel tak bisa menahannya, dikepalanya sudah tersusun rencana.

“cewek kampung itu harus dikasih pelajaran.. dia harus tau kalau ini bukan tempatnya...” batin Ariel, tersenyum jahatnya..


BERSAMBUNG....
BilChell LOVE STORY

BAB 42



Indra dan Ariel sedang duduk disebuah bangku taman dekat rumah Ariel. Ariel sedang sibuk dengan Hpnya, dia berusaha menelepon Billy, tapi tak ada jawaban

“loe Liat.. billy sekarang sudah mulai mengabaikan gue..” kata Ariel frustasi “dia tidak pernah mengangkat telpon gue, apalagi menelepon gue.. harusnya dia minta maaf ke gue karena tadi siang dia mengabaikan dan meninggalkan gue sediri di kantornya..” kata Ariel geram

“bukannya billy selalu seperti itu???” kata indra Polos, entah kenapa Indra mulai bosan mendengar keluh kesah ariel.

“iyaaa... tapi sebelum datang michelle dia gak pernah separah ini...” kata Ariel sebel “apa loe udah dapat informasi tentang Cewek kampung itu dari temennya Shilla??” Tanya Ariel

“Tadi siang gue baru mau nanya.. tapi loe udah nyuruh loe jemput tadi...”kata Indra datar

“loe ini gimana sih??? Masa udah lebih dari seminggu loe gak bisa dapatin informasi sedikitpun???” kata Ariel kelihatan sebel

“Shilla bukan seperti cewek kebanyakan... sangat sulit mendekatinya..” kata indra “dia bukan tipe perempuan yang senang dengan gombalan, dia benci bunga, dan dia benci barang-barang mewah.. untuk bisa sekedar mendekatinya aku butuh perjuangan selama seminggu... “kata Indra,

“dan aku yakin dia bukan tipe cewek ember yang dengan mudah bisa membeberkan rahasia temannya..” kata Indra

“trus loe mau berlama-lama dengan dia??” tanya ariel menatap tajam Indra

“bukan mau berlama-lama tapi Gue butuh waktu, gue harus membuatnya yakin dulu dengan gue.” Kata indra menjelaskan.

“belagu amat sih... gak cewek kampung itu gak temennya , dua-dua sangat belagu..”kata Ariel kesal. Indra hanya diam

Sheilla tengah berjalan ditepian Sungai, dia menyusuri pinggiran sungai, Sambil berjalan Sheilla menatap permukaan air sungai yang terang karena pantulan bulan purnama. Pikirannya  melayang-layang, tentang ingatan masa kecilnya, tentang ibunya sekarang dan tentang Eza bahkan Michelle juga.  Sheilla merasa iri dan kesal saat mengingat Michelle, kenapa dia begitu mudah mengambil perhatian semua orang, bahkan ibunya yang membenci wanita muda pun bisa nyaman didekat Michelle. Ada kekesalan yang besar saat teringat Michelle, sangking kesalnya Sheilla menendang sabuah kaleng bekas minuman. Karena tidak jeli akhirnya kaleng itu mendarat mengenai seseorang.

“Awww..” kata orang itu, dan ternyata seorang preman berbadan besar, “eehh cewek loe kira-kira dong kalau nendang... kena kepala gue tau..” kata nya judes

“Maaf mas gak sengaja..” kata Sheilla ketakutan melihat badannya yang kekar.

“ enak ajah maaf doang.... loe harus ganti rugi,,,” bentak preman itu

“tapi mas.. kan lukanya gak parah..” kata Sheilla dia berusaha menekan rasa takutnya.

“eehh.. ngebantah lagi loe..” kata Preman galak, Sheilla sudah gemetar ketakutan dan saat akan mengapai tangan Sheill, tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang tangan preman itu. Sheilla melihat ke samping, ternyata Rangga

“sebaiknya loe pergi sebelum gue hajar Loe..” kata Rangga tegas,  dan ternyata sang preman adalah preman amatiran, badannya ajah kekar, tapi penakut, dia ketakutan melihat sorot mata Rangga.

“ampun bang.... maafin saya,,, saya khilaf..” kata Sang premen memohon pada rangga

“awas yah kalau gue liat loe masih bertebaran disini... gue bakalan langsung bawa loe kepenjara. ..” Preman mengangguk dan berlari pergi meninggalkan mereka.

“ngapai Loe disini..?” tanya Sheilla membentak rangga.sebenarnya Sheilla berusaha meredam ketakutannya.

“diotak loe gak ada kata terima kasih yah???” kata Rangga menatap  Sheilla tajam, dan Sheilla tak mampu lagi menyembunyikan rasa takutmya, tubuhnya gemetaran. Melihat hal tersebut  Rangga jadi iba. Dia memegang bahu Sheilla dengan kedua tangannya. Rangga menatap Sheilla, Ketakutan Sheilla memudar,

“Ayooo deh.... gue antar loe...”kata Rangga menawarkan diri, kalau dalam keadaan normal Sheilla pasti akan menolaknya, tapi tidak untuk saat ini, dia sangat ketakutan. Dia mengikuti Rangga dari belakang.

Sesampainya dirumah Billy, rangga turun dari mobil Sheilla

“udah sampe..  sekarang loe udah aman... “ kata rangga menatap Sheilla dan Sheilla yang ketakutan pun sekarang lambat laun jadi tak takut lagi. Sheilla diam-diam turun dan mengikuti Rangga.

“makasih...” akhirnya kata itu terucap juga oleh Sheilla , Rangga tersenyum tapi langkahnya terhenti, Rangga sudah berdiri mematung menatap  Rumah Billy, dia menatap lekat jendela kamar michelle yang masih menyala. Pikirannya melayang dan dipenuhi pikiran-pikiran tentang Michelle, dia terus menatap lekat, tatapannya penuh kesedihan, Sheilla melihat kesedihan itu, tapi dia terlalu enggan bertanya

“Masuk dulu..” tambahnya lagi akhirnya,

“enggak usah gue langsung pulang ..”kata rangga beranjak

“loe gak mau liat michelle???” tanya Shieilla, Rangga menghentikan langkahnya, menatap Sheilla, Sheilla hanya diam ditatap Rangga,mungkin rangga sedang bertanya dari mana dia tau tentang isi hatinya yang dia tutup rapat dan mati-matian dia sembunyikan. Pikir Sheilla. Tapi tampa mengucapkan sepetah pun Rangga memalingkan wajahnya  dan dia pun berlalu pergi, sebelum pergi lagi-lagi dia menatap sedih Rumah Billy. Dan kemudian die berlalu pergi, Sheilla sempat menatap jendela kamar Michelle sekelas.. kemudian setelahnya dia masuk ke rumah dan langsung menuju kamarnya.

Sinar matahari menerobos jendela kamar Michelle, Michelle mengeliat, dia enggan bangun dari ranjang. suara burung makin berisik melantunkan irama pagi di Balkon kamarnya, mereka meloncat-loncat seolah ingin membangunkan Michelle. Michelle membuka matanya, tapi belum sadar sepenuhnya, dia bangkit duduk dan menurukan selimutnya. Matanya dikerjab-kerjabkan, dan setelahnya dia mengucek-ucek matanya. Berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih melayang kemana-mana dialam mimpi tadi malam.

Sebenarnya michelle masih ngantuk, semalam mimpi itu datang lagi, setelah dia terbangun Michelle tak bisa memejamkan matanya lagi, dia terus menatap kosong langit-langit kamarmya, tapi matanya tak mau terpejam, kemudian dia bangkit dan berjalan ke balkon , Michelle menatap taman dengan matanya yang sendu, dia mengitari seluruh taman dengan matanya, dan akhirnya matanya tertuju pada balkon di sebelahnya, kamar billy. Michelle menatap kamar billy penuh dengan tatapan misterius, tak tau apa yang dipikirkan michelle. Setelah lama menatap kamar billy michelle akhirnya Michelle menatap langit yang penuh dengan bintang, malam yang indah, tapi tak seindah hatinya, bayangan-bayangan dari masa lalu terus bermunculan dari ingatannya. Hingga akhirnya subuh michelle baru mulai merasa matanya lelah dan akhirnya bisa memejamkan matanya dan tertidur. Michelle mengucek-ucek mata dan mengaruk kepalanya, dia mendongakkan wajahnya menatap jam dinding didepannya. Pukul 07.15 WIB. Michelle sontak kaget.

“Ahh.. gue kesiangan...baju billyyyy..” teriak michelle tertahan, dia bergegas turun, dan mengambil baju Billy. Bik Surti Heran saat melihat Michelle berlari dan langsung memasuki ruang baju billy.

“kenapa Non.. kok lari-lari..??” tanya bik surti

“aku kesiangan.... tadi malam belum sempat nyiapin bajunya Billy..” kata michelle panik. Setelah dia melilih baju dan dasi michelle berlari lagi ke kamar Billy. Untung tante Natasya sedang ditaman, kalau tidak bisa kena semprot, pikir michelle. Sesampainya di kamar billy, karena panik michelle langsung membuka pintu, untung billy sedang berpakaian. Dia mau mengancing kemejanya. Saat michelle masuk billy mengernyitkan dahinya.

“ini baju dan dasi Loe...”kata michelle, “loh .. kok udah ada..” kata michelle sebel, udah panik buru-buru ternyata sudah tersedia.

“untuk loe bawa yang lain.. kemeja ini kebesaran.. kata billy langsung membuka kemejanya yang memang belum terkancing. Mata michelle membulat melihat dada bidang billy tampa benang sehelai pun, wajah michelle langsung bersemu merah, dia langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan dan membalikkan badannya.

“Biillyyyy... mesum banget sih loe..” teriak michelle, tapi billy malah cuek, dia malah mendekati michelle dengan keadaan tampa baju. Michelle merasakan hawa dan aroma parfum bully mendekat,

“Biiilllyyy.. loe mau apa... jangan mendekat,..” teriak Michellle sambil melangkah maju, Michelle mau meningalkan kamar billy. Tapi tangannya keburu billy tangkap, karena terlalu kuat menarik tangannya sehingga tubuh michelle jadi terhempas ke belakang, dan menabrak tubuh Billy. Michella  berdiri tepat didepan billy, tubuh michelle bersandar pada tubuh billy, billy memegang kedua bahu michelle dengan tangannya. Michelle mengangkat wajahnya, Billy sedang menatapnya dengan lekat, michelle jadi menatapnya juga. Sekarang mereka saling menatap. Wajah michelle bersemu merah, Mata Billy membulat, “Ooh.. Tuhan... ini cewek baru bangun tidur, dan pasti juga belum mandi tapi dengan pipi memarah gini dia kenapa kelihatan begitu Manis... aku jadi enggan melepaskannya... ohhh konslet Otak ku tambah parah .....”kata billy dalam hati. Melihat wajah Michelle masih bersemu merah, billy senang dan tampa sadar dia tersenyum melihatnya. Melihat Billy tersenyum Michelle sadar, dia pun cepat cepat menjauhi Billy.

“kenapa sih loe tarik tangan Gue..??” kata michelle ketus, dia berusaha menutupi kegugupannya.

“Loe mau kemana dengan baju Gue??” kata Billy menunjukkan bajunya yang masih michelle pegang, Michelle kaget dan sadar ternyata dia belum memberikan baju Billy.

“Nih... “kata michelle menyerahkan baju billy tampa memandang billy. Melihat Michelle Billy malah ingin mengodanya. Dia tak mengambil bajunya, billy malah berjalan dan berdiri dihadapan Michelle.

“Ngapain sih loe..” kata Michelle panik

“Gue mau ambil baju..” kata billy sambil mendekat dan mengambil baju dari tangan Michelle, michelle menutup matanya dan menahan napasnya saat billy mendekat. Billy tersenyum nakal.

“ngapain sih loe nutup-nutup mata segala..” kata Billy, “loe malu yah??? “kata Billy masih menyunggingkan senyuman nakalnya, sambil memakai kemejanya dia masih menatap michelle. Mendengar perkataan Billy Michelle kesal.

“Ngapain Gue malu..” kata Michelle menatap billy dengan mata menantang

“iyaa .. ngapain loe malu.. kalau nanti loe jadi istri gue.. Loe bisa liat setiap malam kok..’ kata Billy menggoda michelle

“iihhh... siapa yang mau nikah sama loe..” kata Michelle, tampa di perintahkan otak michelle, mata michelle malah menyelidiki tubuh billy, “waahh.. bagus juga badan cowok ini.. kulitnya putih trus dadanya bidang lagi” kata michelle dalam hati.. “hussss... Kok gue malah ngeliatin badan billy sih..” batin michelle malu menyadari kegenitan matanya. Wajahnya tambah bersemu merah, billy tersenyum nakal saat melihat wajah michelle.

“Loe Tergoda liat tubuh seksi gue yah??” Goda billy, mendengar perkataan billy Michelle melotot, bibirnya dia majukan.

“siapa juga yang tergoda.. sekilas diliat sih waaawww... tapi setelah lama-lama diliat biasa ajah.. gak ada yang isimewa..” kata Michelle mengejek dan langsung meninggalkan kamar Billy.

“eehhh.. malah ngatain body gue biasa-biasa ajah.. atletis gini..” kata billy menyelidiki tubuhnya sendiri.

Ke luar kamar billy michelle cepat-cepat masuk kamarnya, dia menghela napas lega. Dia memegang pipinya yang memerah, dan kemudian dadanya yang berdegup kencang. “dasar mesum..” kata michelle lirih dan kemudian masuk kekamar mandi.
 
Billy sedang duduk diruang tamu membaca koran
“loe kok belum berangkat??” tanya Sheilla

“gue nungguin Michelle..” kata Billy singkat, Sheilla mengernyitkan dahi, Billy paling benci dibuat menunggu, dia gak suka menunggu, dia tak pernah menunggu seseorang lebih dari 10 menit, tapi sekarang dia menunggu Michelle begitu tenang, bahkan tampa keluhan.

Michelle akhirnya turun dengan tergesa-gesa, dia yang tadinya berjalan setengah berlari berhenti saat melihat Sheilla, Sheilla menatapnya kesal, dan pergi tampa memperdulikan Michelle. Michelle hanya diam dan menarik napas panjang. Billy hanya menatap datar sikap Sheilla, dan dia bangkit saat melihat Michelle

“ayooo..” kata billy melangkah keluar dan Michelle pun mengikutinya dari belakang, mereka sama-sama masuk mobil dan mobil billly pun melaju meninggalkan rumah menuju kantor.

Selama dalam perjalanan Billy dan michelle tak banyak bicara, Michelle hanya diam menatap pemandangan diluar jendela, billy sesekali meliriknya. Pandangan mata michelle yang menerawang menembus dikejauhan, ada sesuatu yang sedang michelle pikirkan, tapi Billy tak tau apa, pandangan mata itu sama seperti tadi malam, saat michelle menatap taman dengan mata yang sendu. Pikiran billy kembali pada waktu Tadi malam,  billy tidur larut malam, karena ada sesuatu pekerjaan yang harus dia selesaikan. Saat dia sedikit lelah dia bangkit dari meja kerjanya dan menatap keluar jendela, dan saat dia hendak membuka pintu balkon, dia melihat Michelle berdiri dibalkonnya. Dia urung membuka pintu balkon dan memilih berdiri disana sambil menatap Michelle. Michelle masih berdiri tertegun, menatap nanar pemandangan didepannya, Billy menangkap ekspresi sedih dari matanya. kenapa Michelle kelihatan begitu sedih??? Apa yang dia pikirkan  sampai dia harus melamun tengah malam begini??? Siapa yang ada dalam pikirannya??? Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam hatinya. Billy masih terus menatap hingga akhirnya michellle kembali masuk kekamarnya dan billy pun berjalan ke ranjangnya dengan perasaan penasaran yang masih berkecamuk dalam hatinya.

Dan rasa penasaran itu kembali menyelimuti hatinya, ingin rasanya bertanya pada michelle, tapi dia tak yakin michelle akan menjawabnya,

“kemaren loe ketemu ama pak kepala desa??? Bagaimana dengan percetakan,,” akhirnya pertanyaan itu yang keluar dari mulut Billy, Billy sepetinya menelan lagi rasa penasarannya, dia tidak percaya diri untuk bertanya.

“Ketemu katanya nanti dia kabari lagi soal waktu musyawarahnya paling lambat dalam 2 minggu ini.. dan pihak percetakan sudah menyelesaikan 50 % pekerjaannnya..” kata Michelle masih menatap keluar jendela. Tadi sebelum naik mobil lagi-lagi dia menerima SMS dari Ariel, isinya tetap sama, “Cewek udik.. jangan pernah bermimpi loe bakal jadi tunangan billy beneran...  buat Billy Loe itu Cuma batu kali biasa yang bisa diinjak jadi jangan bermimpi menjadi batu berlian... “ . biasanya Michelle akan mengabaikan SMS ariel, tapi entah mengapa sekarang dia jadi begitu melankolis saat mengingat hubungan Billy dan Ariel. Ada rasa sedih, marah dan kesal. Dan kemarahan dan kesedihannya itu bukan karena hinaan Ariel tapi ada sesuatu yang lain yang menganjal hatinya. Michelle masih menatap pemandangan yang mereka lalui, Billy memilih tak bertanya lagi, dia bisa merasakan mood michelle yang sedang jelek, dia tak ingin bertengkar dengan michelle. Dan akhirnya keheningan pun mengiringi perjalannan mereka.

Dikantor Billy dan michelle langsung malakukan pekerjaa mereka, mereka larut dengan pekerjaan masing-masing.

Waktu telah menunjukkan pukul 10.00 wib, ditengah kesibukannya Billy melihat michelle. Michelle tengah asik dengan pekerjaannya, tiba-tiba rangga datang, dia meminta sesuatu pada michelle, michelle meyerahkan sebuah berkas, Rangga tersenyum michelle membalas senyumnya. Rangga tak langsung bereanjak dari meja michelle, sepertinya dia sedang menjelaskan tentang sesuatu pada michelle, sesekali mereka tertawa gembira. Billy metatap tajam kearah mereka, dia mengepalkan tangannya menahan gejolak hatinya. Berbagai macam rasa berkecamuk dalam hatinya, ada  kemarahan dan kesedihan dimata billy, “kenapa loe begitu gampang tersenyum saat loe bersama Rangga.. kenapa dengan gue enggak..” batin Billy. Dia masih menatap Michelle dan rangga, Michelle reflek melirik kearah billy, dia melihat billy sedang menatap mereka, dan akhirnya mereka saling tatap dari dikejauhan.

“michelle aku kembali keruangan ku dulu yah..!!” kata Rangga memecahkan lamunan Michelle, michelle memalingkan wajahnya dari billy dan menatap Rangga

“aahhh iyaa mas... makasih ya..” kata Michelle tersenyum manis, melihat semuman michelle reflek Rangga mengelus kepala michelle dan rangga mengangguk sambil tersenyum manis, dan dia pun meninggalkan michelle.

“Traakk..” Pulpen billy patah, giginya merapat, tanda dia sedang menahan kemarahannya. Dia benar-benar kesal melihat kejadian tadi. Dilihatnya michelle yang sudah mulai asik kembali dengan pekerjaanya. Billy begitu kesal melihat Michelle, dia pun mengambil berkas dan melanjutkan pekerjaannya, tapi tak lama dia menghempaskan tubuhnya ke kursi . billy memegang kepalanya yang sakit, kosentrasinya buyar. Dia makin kesal, harusnya tak akan ada seseorang yang bisa mengusiknya dan membuyar kosentrasinya, tapi semenjak michelle hadir dalam hidupnya Moodnya jadi gampang berubah, michelle selalu dengan mudah dapat mengusiknya.

Sheilla sedang menyetir mobilnya. Dia melajukan mobilnya menuju kantor Billy, sesekali dia belihat bungkusan yang terletak di kursi sampingnya sambil tersenyum. Tidak berapa lama akhirnya Sheilla sampai, dia membuka mobilnya mengambil bungkusan dan berjalan menuju bagasi mobil, Sheilla kemudian membukannya, terlihat banyak bungkusan kotak didalam bagasi itu, dia celingak celinguk memcari bantuan dan akhirnya di melihat jeki dan seorang OB tengah mengebrol

“hei,,, kalian... kemari...” Panggil Sheilla, Jeki dan OB menoleh, mereka menghampiri Sheilla ‘’kalian bawa neh semua bungkusan makan siang ini kedalam,” perintah Sheilla kemudian menyerahkan kunci mobil kepada jeki dan berjalan menuju kantor. Dengan sigap Jeki dan OB itu membawa bungusannya.

Sheilla berjalan menuju ruangan Eza, Sheilla tampa sengaja melihat rangga, rangga tengah asik dengan pekerjaannya dia hanya menatap Sheilla sekilas dan melanjutkan pekerjaannya, Sheilla mencibir Rangga kesal. Sheilla meyusuri tiap ruang mencari Eza, masuk ke ruangannya tapi eza tak ada dia kembali turun dan melihat Eza eza diruangan rapat besar, Eza dan Michelle serta beberapa karyawan sedang mengobrol, sepertinya obrolan mereka begitu seru, sekali-kali mereka tertawa. Melihat eza dan michelle tertawa bahagia, Sheilla kesal dan marah, dia menatap pemandangan itu dengan hati dongkol, apa lagi saat dia melihat Eza memegang rambut Michelle, padahal Eza sedang mengambil  kertas yang yangkut dirambut michelle. Michelle kaget, Eza menunjukkan kertasnya dan mereka pun saling senyum.

Sheilla begitu kesal menyaksikan peristiwa itu dan ternyata dibelakangnya billy sudah berdiri mematung juga, dia juga menyaksikan pemandangan itu, “aahh .. itu Eza kenapa jadi nyebelin banget,, kenapa semua orang begitu gampang menyentuh rambutnya...pengen rasanya makein michelle helm... “ batin Billy frustasi. Billy akhirnya menyadari keberadaan Sheilla

“ngapain loe berdiri disitu.. ??” tanya billy memecahkan lamunan Sheilla, Sheilla kaget dan menatap billy cemberut.

“gue bawa makanan buat  loe dan seleuruh karyawan Loe..” kata Sheilla

“bilang ajah sebenarnya buat Eza, tapi biar kelihatan baik dan cool, loe beliin deh buat semuanya..” kata billy mencibir.

“harusnya loe berterima kasih, hari ini loe gak harus ngeluarin biaya makan siang..” kata Sheilla kesal pada sepupunya itu. sheilla melangkah mendekati Eza, Michelle bangkit saat melihat Sheilla. Sheilla berjalan dengan angun dan melewati michelle, seolah-olah michelle tak ada. Michelle tersenyum menerima perlakuan Sheilla,

“kak ini aku bawain makan siang buat kakak..” kata Sheilla tersenyum kearah Eza dan menyerahkan bungkusannya pada Eza, eza menerima bungkusan itu sambil tersenyum.

“buat yang lain juga ada kok.. dipetri...” kata Sheilla kepada keryawan lain, sontak tampa dikomando mereka bangkin dan berjalan menuju pentri. Lagi-lagi Michelle dicuekin, dianggap tak ada.

Michelle hanya tersenyum dan meninggalkan mereka berdua. Saat berjalan menuju mejanya dia dihalangi oleh billy yang masih berdiri memantung. Michelle mengernyitkan dahi melihat billy menatapnya tajam, ada kemarahan, “ada apa lagi sih,, perasaan, aGue sudah menyelesaikan pekerjaan gue, kenapa billy kelihatan marah gitu..” tanya michelle pada diirinya sendiri. Dia binggung. Michelle berhenti tepat di depan Billy

“kenapa??” tanya Michelle tapi bukannnya menjawab billy malah mengacak-acak rambut michelle gemas, walaupun dikuncir tapi karena billy mengacak-acaknya dengan kemarahan membara sehingga berantakan lah rambut michelle,

“billlyyy...kenapa loe acak-acak rambut gue” kata Michelle kesal sambil mencoba merapikan rambutnya, billy menatapnya sejenak lalu pergi meninggalkan michelle,

“dasar aneh,,” kata michelle setengah berteriak, dan pergi menuju kamar mandi merapikan rambutnya.

Billy berbalik menatap michelle yang tengah berjalan ke kamar mandi. Dia menghela napasnya, “lama-lama gue bisa gila kalau begini terus..” kata Billy dalam hati.

“treeett.. treeeettt..” suara HP billy bergetar dan membuyarkan lamunannya.

“Haloo...” sapa billy

“hei billy.. masih ingat sama gue... ??? gue Gio... temen loe pas di LN dulu..” kata seseorang diseberang sana,

“oohhh.. Loe Gio... apa kabar?? Di indo loe sekarang..” kata billy

“iyaahh.. udah lama juga gue disini hampir setehun, loe ajah yang begitu sibuk gak bisa nongkrong bareng...” kata Gio

“Sorry.... ya udah nanti deh kita nongrong.. loe maunya kapan dan dimana??” kata Billy sedikit antusias, Gio adalah teman dekatnya di kampus

“Nanti malam ajah.. loe datang ke acara Ultahnya gue... di hotel Mized.. “ kata gio diseberang

“Hari ini Loe ulang tahun??” kata Billy kaget,

“loe udah lupa sih... Iya ... loe datang yah jangan lupa bawa tunangan loe... gue dengar loe udah punya tunangan.. gue mau liat tunangan loe... awas kalau enggak..” kata Gio setengah mingancam, billy tertawa mendengar ancamannya.

“okee ... “ kata billy singkat

“gue tunggu..”Gio pun menutup telponya billy juga, dia tersenyum senang, kagen juga dengan Gio, dia jarang ngumpul dengan Gio karena kesibukan mereka masing-masing.

Michelle baru kembali dari toilet. Billy menatapnya lekat, Michelle mengernyitkan dahi, reflek Michelle memegang kepalanya dengan kedua tangannya, takut Billy mengacaknya lagi. Billy tertawa melihat ekpresi lucu michelle, Michelle malah tambah memanyunkan mulutnya.

“mulai nanti sore sampe malam loe harus ngosongin jadwal Loe.. gak boleh kemana-mana ..” kata billy serius

“kenapa??” tanya Michelle polos

“kita punya kerjaan penting..” jawab billy sambil tersenyum nakal. Michelle tak melihat senyuman billy dia hanya menganggu pasrah. Michelle pun berjalan ke patri tiba-tiba dia haus. Dia panti tak ada siapa-siapa. Michelle mengambil gelas dan menuangkan air putih, dan saat berbalik, hampir saja dia menyemburkan air putih yang ada dimulutnya tapi tak jadi dia menelannya, dan akhirnya dia tersedak.

“huukkk... hukkkkk...” Sheilla telah berdiri didepannya “ngapain loe tiba-tiba berdiri didepan gue.. enggak loe gak billy sama ajah.. bikin kaget..” tambah michelle setelah dia meredakan batuknya.

“Loe lupa ama peringatan gue??” tanya Sheilla kesal

“soel Eza??? Gue dan Eza murni hanya rekan kerja... gak ada hubungan khusus.. loe sendiri bilang kalau gue ini hanya dianggap mirip seseorang oleh eza kan?? Berarti perlakuan Eza ke gue murni bukan karena gue tapi karena bayang-banyang seseorang itu..” kata michelle, Sheilla tau dan setuju dengan michelle, tapi justru itu juga membuat Sheilla kesal, bayangan itu tak ada disini, dia tak tau harus kemana menyalurkan kekesalannya, pilihannya hanya satu michelle.

“Tapi loe gak usah keganjenan gitu... gue gak suka..”  bentak Sheilla

“sebenarnya loe gak suka ama gue?? Apa gak suka Eza dekat-dekat Gue..???’ tanya Michelle heran

‘Semuanya yang ada didiri loe gue gak suka.. setiap mengeliat loe gue pengen marah” kata Sheilla ketus, Yah.. Sheilla tak tau kenapa saat melihat michelle dia kesal, marah, sia begitu mudah mengambil hati orang-orang, Om surya, Oma, Kak masya, mas vino, Kak Eza, bahkan rangga juga, dan sepertinya billy juga mulai tertarik dengan michelle, bukan hanya itu bahkan semua pembantu juga bisa begitu akram dengannya dan yang paling dia benci mamanya juga bisa begitu tenang didekat michelle. Sheilla jadi tambah kesal dengan michelle, dia tak tau kenapa mungkin sebenarnya dia iri dengan Michelle, Sheilla tak bisa seperti michelle yang bisa gampang  bergaul dengan siapapun. Sheilla menatap michelle tajam dan dia meninggalkan michelle sendirian di pantri.

Michelle mengembuskan napasnya kuat, dia menatap kepergian Sheilla dan menganggkat bahu. Michelle pun kembali mulai bekerja. Tampa Sheilla dan michelle sadari ternyata Ariel ada di balkon pantri, tadinya dia datang ingin mencari billy, tapi sesaat dia melihat Sheilla dan dia mengikuti Sheilla dari belakang. Dia medengar pembicaraan Sheilla dan Michelle. Ariel tersenyum di balkon

“Gue bisa mamfaatin Sheilla... “ katanya sersenyum girang. Dan Ariel pun tak jadi menemui Billy dia kembali pulang dengan hati yang gembira, pikirannya dipenuhi rencana rencana.




Bersambung...
BilChell LOVE STORY

BAB 41



 Air mata sang pemuda tumpah tampa bisa dia bendung, bayang banyang masa lau terbayang kejar-kejaran dibenaknya. Bayangan kesedihan dan kebahagian silih berganti hadir. Pemuda itu mendongakkkan kepalanya melihat keatas pohon mangga.  Bayangan kebahagiaan yang dia rasakan dirumah ini,

“kakak.. aku mau dong mangganya..” kata anak laki-laki kecil merengek sambil menangis..

“Iyaaa... ini kakak lagi ambilin,, kamu yang sabar dong..” kata seorang remaja cowok diatas pohon mangga.

Tak lama pemuda itu turun, dia melompat-lompat untuk mengusir semut merah dari tubuhnya.

“nih.. makan... jangan nangis lagi... banyak semut tau diatas sana... “ katanya sambil menyerahkan mangga ke pada adik kecilnya, menghapus airmata dan air hidung sang adik.  Seteh itu dia pun mengaruk-garuk badannya yang sudah bentol digigit semut.

“gendong dong kak...” kata adik kecil manja, Sang remaja hanya mengeleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya yang manja. Tampa mempedulikan rasa sakit dibadannya, sang kakak pun mengendong adiknya dipunggungnya. Sejak kematian ayah mereka, 6 bulan yang lalu, sang adik kecil memang begitu manja dengan kakaknya. Kakaknya selalu menuruti kemauanya, saat mama marah karena kenakalannya, sang kakak selalu menghiburnya, memeluknya. Dan saat dia rindu ayahnya sang kakak akan menggendongnya keliling rumah, seperti yang sering ayah mereka lakukan.

Sang Pemuda menatap, pohon mangga itu dengan sendu, diusap-usapnya pohon mangga penuh kenangan itu. sang pemuda menatap halaman rumah itu dengan pandangan nanar, sebuah ambulan berhenti dirumahnya, orang-orang mengusung sebuah tandu, kakaknya terbujur kaku di atas tandu. Ibunya  menangis dengan histeris, sang adik yang sudah beranjak ramaja hanya bisa diam mematung memandang kakaknya terbujur kaku, memandang mayat kakak yang paling dia sayang. Matanya memancarkan kemarahan, kesedihan

“semuanya gara-gara gadis itu... aku tidak akan membiarkan dia hidup bahagia... “lirih suara sang Adik. Dia megepalkan tangganya.

Sang pemuda seolah-olah menatap dirinya saat remaja, dirinya yang penuh dendam dan kemarahan, dia memejamkan matanya, menarik napas panjang, dan sang pemuda mengangkat wajahnya memandang langit, seolah-olah dia ingin memaksa air matanya yang akan mengalir untuk kembali masuk.  Dia membuka matanya berlahan, dengan posisi wajah masih memandang langit,

“aku sudah menemukannya kak.... tapi apa yang harus aku lakukan, setiap memandangnya hati ku sakit.. segala rasa berkecamuk dihati ku..” kata sang pemuda seolah bicara dengan kakaknya.

“Rangga..” seorang nenek tua memannggilnya, Iyaa.. pemuda itu adalah rangga. Rangga menoleh, dia memandangi nenek tua itu sambil berpikir,

“ahhh.. syukurlah kamu masih hidup, dan sudah tumbuh menjadi pemuda tampan..” kata sang nenek memegang tangannya dan ada air mata mengalir dipipinya. “aku nenek tono.. kamu ingat??” kata sang nenek, ah.. Tono temen mainnya dulu. Rangga menyambut tangan nenek itu dan tersenyum

“kami begitu menghawatikkan kamu dan ibu kamu.. tiba-tiba menghilang tak tau rimbanya.. kalau pak RT tidak memberitahikan kami kalau ibu kamu sudah pamitan, kami sudah melaporkan kalian ke polisi,, sebagai orang hilang...” kata sang nenek

“bagaimana kabar ibu kamu??’ tanya sang nenek lagi

“baik nek..” kata rangga tersenyum.

“syukurlah... oohh yaa....... .” Rangga dan nenek  itu terus berbicara dan mengobrol tentang masa lalu, sekali-kali wajah rangga terlihat binggung, dan akhirnya terlihat sedih dan pilu.

Sementara itu Michelle keluar dari rumah salah seorang warga, pak kepala desa mengantar michelle keluar dari rumah keponakannya,

“jadi  2 minggu depan kami akan datang kedesa bapak..” kata Michelle, sang kepala desa tersenyum mengangguk.

“mudah-mudahan kita bisa menemukan jalan keluarnya..” kata sang bapak kepala desa, Michelle mengangguk mantap. Dia pun pamit pulang.

 Michelle menyusuri jalan, dan dijalan yang lain rangga juga sedang menyusuri jalan setapak, dia berjalan berlahan menuju pintu keluar perkampungan ini. Michelle juga berjalan menuju ke pintu keluar perkampungan, sambil berjalan michelle melihat orang-orang di kampung ini yang sedang bercanda gurau, anak-anak yang bermain dengan riangnya, sesekali dia tersenyum kepala mereka yang memandangnya. Rangga juga sedang menikmati perjalannanya. Berlahan, dan akhirnya dia menemukan pintu keluar arah timur, rangga memakirkan mobilnya disana, Michelle juga keluar dari perkampungan tapi disebelah selatan, disana supirnya sudah menanti, michelle masuk ke mobil,dan seketika itu mobil rangga pun lewat didepannya, dia tak melihat Rangga, dan Rangga pun tak melihat dirinya.

“kita kepercetakan mas..” kata Michelle, Sang Supir mengangguk. Michelle duduk tenang di kursi belakang, dan dia sedang menulis sesuatu di angendanya.

Billy dan Eza sedang menemani koleganya melihat lahan-lahan proyek untuk pembanggunan Pabrik, mereka berdiskusi dan meninjau lahan itu, sedang asik berdiskusi Rangga datang, Billy mengernyitkan dahinya, “Rangga terlambat..” batin billy

“Sorry gue telat.. tadi ada empat yang harus gue kunjungi..” kata Rangga,

“Dimana??” kata Billy tiba-tiba Kepo, “jangan –jangan dia nemein Michelle..” batin Billy curiga. Eza heran melihat kekepoan Billy, billy tak pernah mengurusi urusan orang lain, tapi kenapa tiba-tiba dia jadi ngurusin rangga..??? tanya eza dalam hati.

“ke Tempat gue tinggal waktu kecil..” kata rangga, dia tak sadar dikepoin Billy. Billy hanya mengangguk, dia yang tadinya curiga kalau tadi Rangga menemani Michelle, sekarang dia sedikit lega.

“oyaahh.. Za, Ga... gue harus balik kekantor, ada berkas yang harus gue periksa, loe bedua temenin mereka yah... nanti setelah ini loe berdua bawa mereka ke lahan satu lagi yah..” kata billy, Eza dan rangga hanya mengangguk.

Billy berjalan menjauhi mereka, dia berjalan menuju mobilnya. Sambil berjalan dia mengambil Hpnya dan menekan nomer seseorang.

“dia dimana sekarang,??...... Oohhh... trus tadi pas disana dia sama siapa???..... beneran sendiri....???...... yakin kan kamu???.... .... ya udah, nanti tiap dia ketemu dengan seseorang kabari saya juga....” kata billy, sekilas Eza mendengar pembicaraan billy di telpon, eza heran, siapa yang sedang billy awasi.

Billy menutup telponnya dan pergi ke mobilnya, dia menyetir mobilnya menuju kantor. Sementara itu seseorang diseberang Telpon billy tadi sedang ada didalam mobil yang terpakir di halaman sebuah gedung percetakan., dia hanya memandang aneh. Seseorang itu adalah supir kantor billy, dia heran dengan bosnya, tak pernah dia melihat bosnya mengurusi seseorang seperti dia mengurusi Michelle, hampir tiap 2 jam sekali Billy mengecek keadaan michelle, seperti tadi. Dimana?? Dengan siapa dia??? Itu pertanyaan yang tiap kali ditanyakan billy. “ Kayaknya pak billy cinta banget ama mbak Michelle..” batin sang sopir.

Didalam gedung, michelle sedang Asik memeriksa hasil pesanan kantornya,

“sepertinya warnanya terlalu pudar..bisa diterangin dikit gak??” kata Michelle

“oohh boleh mbak.. ini Cuma contoh mbak...  kalau mau diterangin dikit warnanya nanti kita terangi..” kata sang manajer. Setelah memeriksa semuanya michelle pun bersalaman dengan sang manajer dan pamit. Hari sudah siang, waktu telah menunjukkan pukul 01.00 siang. Michelle kembali ke dalam mobil,

“kita kemana lagi mbak..” kata sang supir, michelle melihat arlojinya.

“kita kekantor pak Darmawan... tapi sebelumnya makan siang dulu...udah masuk jam makan siang”kata michelle duduk dibelakang

“makan dimana Mbak..???” kata si supir jeki sambil menyetir mobilnya, dia melihat atasannya dari kaca sepion.

“di jalan arah kesana ada soto yang enak..  kita kesana ajah.. nanti saya tunjukin tempatnya..” kata michelle. Dan mobil pun melaju ke arah yang dimaksudkan michelle.

Di kantor billy masih sibuk memeriksa berkas Amdal pronyeknya. Dia sebuk dengan pekerjaannya. Tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu ruangannya. Billy memanggkat wajahnya. Ternyata Ariel, billy begitu enggan,menatapnya, dia melanjutkan pekerjaannya lagi.

“kamu udah makan sayang..??” tanya Ariel, billy hanya diam menatap berkasnya, “hari ini aku gak bawa makanan.. gimana kalau kita makan diluar??” tambah Ariel, sambil mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan, Michelle tidak kelihatan

“Mobil gue Gak ada, dipakai..” kata billy singkat

“sama Michelle??” kata Ariel mencoba menebak, dia menunggu jawaban billy dengan cemas, billy biasanya tak pernah mengijinkan orang lain memakai mobilnya, yang boleh menyetir hanya dia dan supirnya, dan tampa dia ada didalam mobil orang lain tak pernah dia ijinkan meminjamkannya, bahkan Sheilla pun tak diijinkannya.

“yaa..” kata billy singkat, Ariel mencoba manahan dirinya untuk tidak marah, dia tak percaya dengan jawaban billy, begitu ringan, dulu saat dia meminta sopirnya mengantanya ke acara temannya billy tak mengijinkannya, tapi kenapa michelle boleh??? Batinnya kesal

“kenapa michelle gak kamu suruh naik taksi ajah..” kata Ariel sambil menahan gejolak dihatinya

“ini untuk keperluan kantor, dan banyak tempat yang harus dia datangi... terlalu sulit dan melelahkan kalau dia harus pakai aksi..” kata Billy cuek, dia masih sibuk dengan berkasnya.

“Sulit???? Melelahkan??” batin Ariel “sejak kapan Billy begitu peduli takut Michelle kelelahan??” batin Ariel bergejolak. Dia melihat billy sekarang tidak lagi asik dengan berkasnya di sibuk dengan Hpnya, Billy sedang SMSan dengan seseorang,



---------“kalian sudah pulang dari percetakan..???” ----

******”udah pak.. ini kita lagi makan siang...”------

--------“dimana??”-----

*****”diwarung dekat kantor pak Darmawan... Mbak michelle ajak saya makan disini.”--

--------“kamu dan Michelle???”------ wajah billy kelihatan kesal.

-*****” iyaa pak..”---- sang supir menjawab dengan khawatir dia ketakutan, sepertinya dia menangkap kekesalan majikannya, michelle melihat sang Sopir heran..

“ kenapa?? Kok kelihatan panik??” tanya michelle heran

“enggak Mbak... gimana kalau saya makan tempat lain saja..” jawab sang sopir segan

“kenapa?? Gak suka makan disini??” tanya michelle lagi

“bukan.. tapi.. saya segan... saya kan Cuma supir..” kata sang supir

“Ahh... biasa ajah ... sama-sama manusia juga..” kata Michelle cuak, sebenarnya sang supir memang sudah enggan makan satu meja dengan michelle, tapi michelle terus memaksa. Michelle hanya tersenyum. Perempuan satu ini memang baik, dia lain dari pada yang lain, dia begitu menghargai orang lain, dan tidak pernah menganggap rendah seseorang yang bahkan dibawahnya. Beda dengan Mbak Ariel, dimarahi dan dikasari Ariel adalah makanannya sehari-hari billa bertemu, tapi untungnya dia tak pernah mengantar Ariel berdua seperti saat dia mengantar michelle saat ini. Kalau enggak mungkin sikapnya akan lebih kasar lagi. Saat sedang  melamun Hpnya berdering, wajahnya sedikit pucat, dia bangkit dan berjalan keluar menganggkat telpon

Dikantor billy, billy begitu sibuk dengan Hpnya, Areil kesal,

“kamu SMSan ama siapa sih..??” Ariel mencoba bertanya, dia melihat billy kesal. Billy tak memperdulikan Ariel, dia sibuk dengan pikirannya sendiri, Michelle ngapain makan berdua sama sopir sih??? Batin billy kesal, kalau saja dia punya mobil lain, mungkin dia bakalan menyusul mereka, tapi dia tak punya, eza dan rangga dilapangan, Ariel tidak ada, dan tidak mungkin juga dia menyusul michelle sambil membawa Ariel. Membayangkan mereka makan berdua, billy jadi kesal. Dia menekan Hpnya dan menelepon sang supir.

“Hallo pak..” kata sang supir diseberang sana.

“kalian lagi makan apa??” tanya billy datar..

“soto pak..” jawab sopir dengan suara yang bergetar, dia bisa menangkap suara kesal bosnya. “Mbak michelle memaksa saya ikut makan Pak.. bahkan satu meja..saya sudah menolaknya..” kata sang supir dengan nada memohon supaya tidak dimarahi.

“iyaa.. saya tau.. dia tidak akan membiarkan mu Cuma duduk didalam mobil sementara dia makan..” kata Billy menghela napas. Ada kelgaan diwajah sopir deseberang sana.

“ya udah.. nanti setelah makan jangan lupa kabari lagi saya..” kata Billy tegas menutup telponya. Ariel menatap billy heran. Tidak biasanya billy mengurusi orang lain makan.

Billy menutup telponnnya “ kayaknya gue udah gilaa.. mengeceknya hampir tiap dua jam sakali...bahkan sekarang dengan sopir pun gue bisa kesal saat gue tau dia makan berdua dengan michelle...” batin billy “otak gue bener-bener konslet, ..” kata billy dalam hati sambil memadang telponya.

Saat sedang menatap telponya, Eza datang

“Bill... ayo makan siang dengan rekanan.. mereka sudah menunggu..” kata Eza sedikit kaget saat melihat Ariel, “eehh... ada loe Rill..” kata Eza, Ariel hanya diam

“gue ada janji makan siang dengan rekanan.. loe pulang ajah..” kata Billy cuek dan meninggalkan Ariel sendiri dan berjalan keluar. Ariel menatap kepergian billy dengan hati kesal.

Sementara itu Indra dan Shilla sedang duduk di bangku taman, mereka menikmati dan memandang orang orang yang lalu lalang. Mereka tidak banyak bicara, terutama Shilla. Indra sudah berusaha untuk mengobrol tapi Shilla sibuk dengan kegiatannya memperhatikan orang-orang.

“kenapa sih Loe suka banget nongkrong di Taman??” tanya Indra Heran

“ ini bisa menunjang profesi Gue sebagai Arsitek...” kata Shilla mantap

“apa hubungan taman dan arsitek??” tanya Indra lagi terlihat Heran.

“ditaman loe bisa liat banyak hal, banyak orang dengan berbagai tipe dan karakter... loe bisa belajar banyak hal disini... “kata Shilla masih asik memperhatikan banyak orang.

“tapi buat apa?? Loe kan bukan Psikolog..??” kata Indra masih binggung.

“Tapi menurut gue jadi Arsitek itu juga perlu ilmu psikolog...” kata Shilla, “Sebuah Bangunan yang di huni oleh seseorang itu harus memberi rasa aman dan nyaman saat dihuni.. jadi untuk merancanya kita harus tau karakter sipenghuni.. dan disini loe bisa belajar itu...” kata Shilla panjang lebar, walaupun Indra tak terlalu mengerti.

“kenapa?? Loe gak betah disini???” tanya Shillla “lagian siapa suruh sih loe ikut gue??” tambahnya

“enggak sih.. hanya saja kenapa loe gak milih restoran atau tempat-tempat romantis lain sih” kata indra sedikit protes “lagian kalau gue gak ikutin loe gini mana ada kesemptan gue buat sama-sama loe..” Tambah indra

“buat apa ke tempat Romantis??? Memangnya kita pacaran..” kata Shilla cuek, indra hanya cemberut tapi harus diakui dia mulai menikmati nongkrong ditaman seperti ini. Selain asik tapi juga murah.

Shilla memang bersikat cuek pada indra Tapi saat bersama shila dia merasakan Ritmen ketenangan. Shilla berbeda dengan gadis-gadis yang banyak dia temui, dia apa adanya. Saat bersama Shilla Indra merasa ringgan. Indra ikut sibuk menatap orang-orang sama seperti Shilla. Sedang Asik-asiknya tiba-tiba suara HP Indra memeceh kesenyian diantara Indra dan Shilla, Indra menatap layar Hpnya .. Ariel.. ntah kenapa ada keengganan diwajah indra. Indra menatap Shilla, Shilla hanya menatapnya sekilas, lalu melanjutkan aktifitasnya lagi. Idra berjalan menjauhi Shilla dan mengangkat telponnya.

“haloo...” kata indra

“Ndra... jemput gue dikantor Billy yang satu lagi..” kata Ariel memerintah tampa menyapa. Indra menatap Shilla, Shilla acuh tak acuh.

“Tapi gue lagi sama Shilla, dan gue mau makan siang bareng Shilla..”kata Indra mencoba mengelak,

“Loe kanapa jadi terlalu dekat dengan Shilla?? Setiap hari loe selalu dengan dia..” kata Ariel jenggkel, indra sudah susah disuruh-suruh olehnya.

“kan loe sendiri yang bilang harus dekatin dia.. “kata Indra berbisik sambil menatap Shilla.

“pokoknya gue gak mau tau... jemput gue sekarang..” kata Ariel tegas, “billy gak mempedulikan gue ... “ ada getaran disuaranya.

“baik lah..” akhirnya Indra mengiyakan, saat Ariel seperti ini dia tak bisa mengabaikannya, Indra terlalu lemah dengan Ariel.. Indra lagi-lagi menatap Shilla, Shilla menatap Indra tajam. Indra berjalan menghampiri Shilla.

“aku harus pergi... ada sedikit urusan..” kata indra, Shilla hanya mengangguk. Dan indra pun berlalu dari taman, Shilla menatap pungungnya, tadi saat menelepon Shilla melihat ada kilatan luka dimata Indra, menatap punggunya seperti ada kesepian yang mengelayutinya. Berteman dengan Michelle membuat Shilla jadi orang yang begitu mudah melihat kesedihan seseorang yang lain. Tapi Shilla  menatap Indra sampai dia menghilang dan kemudian dia kembali asik dengan orang-orang ditaman.

Didalam mobil, eza sedang  menyetir, billy hanya diam menatap tajam pemandangan didepannya, sesekali Eza melirik kesamping, Sahabanya sepertinya sedang Badmood, pikirnya.

“loe kenapa?? Kok kyknya gak mood gitu..” kata Eza

“enggak ada ..” kata Billy singkat, dia sibuk memencet tombol tombolnya. Eza hanya menatap Heran. Billy sedang SMSan dengan si Jeki, sang sopir bilang mereka baru selesai makan dan sekarang michelle sedang menuju kantor Om darmawan.

“si Michelle mana?? Kok seharian gue gak liat dia...???” tanya Eza

“gue suruh pergi ngurus percetakan dan nemuin Bokap loe..” kata Billy santai

“bokap gue kan dari pagi meeting dengan klien, nanti sore baru selesai,..” kata Eza, billy hanya diam, dia tau itu, tapi dia gak punya cara lain untuk menjauhkan michelle dari rangga tampa harus diketahui Michelle. Eza masih menatap billy dalam diamnya.

Michelle dikantor Om darmawan,  dia menghampiri meja sekretarisnya,

“Mbak... bisa saya bertemu dengan Pak darmawan???” Tanya michelle.

“pak Darmawannya sedang ada rapat dengan klien...” jawab sang sekretaris. Michelle diam mendengarkan.

“kapan selesainya??” tanyanya lagi

“saya kurang tau Mbak...  Mbak dari mana???” tanya sang sektetaris

“saya dari Davidson group..” kata michelle

“oohhh.. tunggu ajah Mbak disana..’ kata sang sekretaris menunjuk ruang tunggu.

Michelle pun menunggu diruang tunggu dengan sabar. Michelle menunggu sambil membaca buku. Waktu terus berlalu sudah 2 jam michelle menunggu, dia sudah mulai bosan. Dia ingin menitipkan berkas itu pada sekretarisnya, tapi teringat kata-kata billy. Bahwa berkas itu harus langsung diberikan pada Om Darmawan, michelle pun mengurungkan niatnya. Dia mengambil sebuah majalah dan membacanya.

Pukul 16.00 Wib. Billy sedang sibuk diruangannya,  setelah makan siang dan membahas masalah Amdal dengan rekan bisnisnya, billy kembali kekantor. Dia kembali disibukkan dengan pekerjaannya, entah karena kebiasaan atau kerana merindukannya michelle , sesekali dia menatap meja michelle. Diambilnya Hpny, dia menekan Nomer Michelle.

“Haloo..” suara diseberang sana

“loe masih di tempa om darmawan???’ tanya billy

“iya... sepertinya om darmawan masil rapat... apa aku titipkan berkasnya ke sekretarisnya ajah..??” tanya Michelle, dia sudah mulai bosan

“jangan ...loe tunggu ajah sebentar lagi... kalau satu jam lagi om darmawan belum selesai.. loe boleh pulang,, besok ajah kita antar pagi-pagi..” kata billy lunak

“memang boleh??” tanya michelle heran dengan kelembutan sikap billy.

‘YA”... jawab billy singkat

“apa gue boleh mampir kesuatu tempat??” kata michelle bertanya, dia ingin menemui Shilla.

“gak boleh.. loe harus langsung pulang..” kata billy ketus kembali

“tapi.. gue..” kata michelle belum selesai dia berbicara, billy sudah memotongnya

“sekali gue bilang gak boleh tetap gak boleh..” bentaknya, “pokoknya loe..” belum selesai bicara michelle malah menutup telponya, Michelle sebel dengan sikap billy kadang lembut kadang jutek. Billy kesal michelle menutup telponya, dia menelepon kembali tapi michelle tak mengangkatnya.

Ternyata om darmawan sudah selesai rapat, saat berjalan keruangannya dia menatap Michelle heran, Michelle hanya tersenyum

“loh Michelle.. udah lama nunggu...??” kata Om darmawan ramah, om darmawan mengenali michelle, dia juga hadir diacara pertunangan michelle dan billy, michelle hanya tersenyum “ada apa??”  tanya om Darmawan lagi,

“saya dititipkan billy berkas ini om... katanya harus langsung diserahkan dengan om..” kata Michelle menyerahkan berkas ke tangan om darmawan

“oooh... iyaa..” kata Om darmawan mengambil berkas itu dari tangan michelle. “Mari masuk kedalam.. “kata om Darmawan.

“Gak papa om... saya Cuma mau mengantar berkas itu...saya pamit dulu om...”kata Michelle mengangguk hormat,

“oo ya udah.. hati-hati dijalan..” kata Om surya terseyum

“iyaa.. permisi Om..” kata michelle pamit dan meninggalkan ruangan om darmawan, dia berjalan dan meninggalkan kantor om darmawan. Dibawah supir masih menunggunya dimobil

Di dalama mobil sang supir sedang menelepon

“Iyaaa pak... itu non michelle sudah turun,,” kata Sang supir

“kamu harus mengantarkan michelle pulang kerumah jangan antar ketempat lain..” kata Billy tegas

“iya pak..” kata sang supir,

“ya sudah, jangan bilang sama michelle saya telepon kamu..” kata Billy tegas, dia pun menutup telponya. Tepat sang supir mematikan telponya Michelle masuk kedalam mobil, dia heran, selama dia sering pergii satu mobil dengan billy dan disupiri oleh Jeki michelle tak pernah melihat Sang supir sibuk dengan telponnya. Tapi hari ini dia terlalu sibuk dengan telponya. Michelle hanya memandang heran, tapi dia enggan bertanya.

“kemana lagi kita Mbak..??” tanya Jeki, dia harap-harap cemas menunggu jawaban michelle, binggung bagaimana harus mengatakan kalau michelle harus pulang kerumah.

“pulang ke rumah saja... udah sore..” kata michelle,

“iyaa Mbak..” ada kelegaan disuara jeki, dia melajukan mobilnya menuju rumah billy. Perjalanan hanya memakan waktu 45 menit. Michelle pun sampai kerumah billy. Saat turun dari mobil dia teringat sesuatu, dia mengambil Hpnya dan menelepon seseorang.

Billy sedang sibuk dengan berkasnya, tapi pikirannya melayang ke michelle, apa dia sudah sampai kerumah atau dia mampir kesuatu tempat??? Atau jangan-jangan mau ketemu rangga?? Rangga tak ada dikantor.. pikirnya, banyak pertanyaan dan kecurigaan mampir dikepalanya. “treeett..treeet..’” HP billy bergetar, dia sedikit kaget, dan tambah kaget saat dia melihat siapa yang meneleponya, ada senyum tersungging dibibirnya.

“halooo..’ kata billy

“Loe masih dikantor??” tanya Michelle

“masih.. kenapa??” kata billy heran dengan pertanyaannya michelle

“jam berapa loe pulang..??” tanya michelle tak mengubris pertanyaan billy.

“mungkin satu jam lagi..” kata billy “kenapa loe mau gue cepat pulang??? “ kata billy mengoda michelle

“jangan GR loe...” kata michelle manyun “ gue Cuma mau nyurus supir balik kekantor... kalau loe udah pulang ngapain nyurus dia balik..’ kata Michelle tegas. Belum pun Billy menjawabnya michelle sudah menutup telponya. Billy kesal, michelle selalu seperti ini menutup telpon sesukanya.

“Mas kembali ajah ke kantor... pak billy masih dikantor..” kata michelle kepada sang supir, sang supir mengangguk, dan meninggalkan rumah Billy. Michelle masuk kerumah, rumah sepi, Cuma ada Oma, dan Paris serta tante amara dan para pembantu. Sebelum naik ke atas michelle menemui oma ditaman,

“omaa..” kata michelle mencium tangan dan pipi oma

‘udah pulang kamu?? Kok cepat?? Billy mana???” tanya Oma

“tadi ada urusan diluar kantor, karena selesainya sore aku langsung pulang.. Billy masih dikantor mungkin sebentar lagi balik..” kata michelle menjawab pertanyaan oma. Oma hanya mengangguk.

“aku ganti baju dulu yah oma..” kata michelle, paris sedang bermain disebelah oma, dia mencium paris sebelum naik ke kamarnya. 20 m3nit kemudian dia kembali ke taman. Oma sedang duduk ditaman, Michelle menghampiri oma.

“Omaa.. boleh gak aku bawa tante amara kemari..”tanya michelle, oma mengangguk. Sejak peristiwa diruang miserius itu, michelle sering merawat tante amara, dia menyempatkan diri sesekali menjengungnya, mengajaknya bicara, mulanya tante amanya sedikit histeris, tapi michelle sabar mendekatinya, mengelus-elus tangannya sampai akhirnya tante Amara tidak langi histeris padanya. Micehlle berjalan ke kamar tante Amara, disana tante amara baru selesai mandi, ada perawat disampingnya. Sang perawat tersenyum padanya.

“hai tante amara..” sapa michelle ramah, tante amara memandangnya dan tersenyum gembira melihatnya. “sini aku sisirin rambutnya tante..” kata Michelle mengambil sisir dan menyisur rambut tante amara. Setelah selesai dia memegang tangan tante Amara



‘kita jalan-jalan ke taman yuk tante..” kata Michelle. Tante amara tersenyum senang matanya berbinar bahagia. Perawat dan michelle menuntun tante Amara berdiri, dan michelle memegang erat tangannya dan menuntunya berjalan ke taman. Ditaman tante amara bermain dengan Paris. Sementara oma dan michelle duduk memperhatikan mereka. Michelle memegang tangan oma dan memeluknya, ada butiran air mata jatuh dipipi oma saat melihat tante Amara, anak perempuannya satu-satunya.



“waktu itu kamu pasti kaget..”kata oma kemuadian, dan menatap michelle

“kaget sih oma... tapi gak papa kok..’ kata michelle

“tak tau harus berkata apa kepada kamu... Tapi terima kasih michelle setidaknya Amara bisa setenang ini.. dulu dia tak bisa setenang ini.. kami bahkan harus mengikatnya..” kata Oma sedih “rasanya terlalu sakit kalau melihat dia terikat diatas tempat tidur..” kata oma sudah terisak. Michelle mengelus-elus lengan Oma.

“sebenarnya bukan karena aku sih Oma.. tapi karena Paris... Ada banyang-banyang Sheilla di paris. Waktu tante amara berhenti saat kecelakaan itu jadi dia hanya tau Sheilla masih seumuran Paris.. dan saat didekat paris tante Amara menjadi tenang, walaupun Tante amara seperti ini tapi Rasa cinta dan sayangnya pada Sheilla masih begitu besar tersimpan dihatinya...” kata Michelle memandang wanita cantik didepannya. Wanita itu sedang bermain dengan Paris, paris begitu sabar dan pengertian menghadapi tante Amara.

“iyaa.. andai Sheilla tau dan mau bersikap seperti kamu .. mungkin Amara akan cepat sembuh..” kata oma sendu

“Sheilla waktu itu hanya gadis kecil Oma.. luka yang tertinggal begitu dalam dan setiap dia melihat Tante Amara aku yakin hatinya pasti sedih dan sakit..’” oma mengangguk dan tersenyum dengan wajah sendunya.

“tapi aku bangga melihat Paris..” kata michelle, oma menatapnya “betapa pengertiaan dan sabarnya dia menghadapi tante amara, dia tak mengeluh bahkan bertanya..” kata michelle menatap paris tersenyum.

“iyaaa.. kamu benar..” , oma ikut tersenyum menatapnya

“pasti sudah besar nanti dia jadi gadis yang pengertian..” kata Michelle tersenyum

“amiiinn..”kata Marsya menimpali dari belakang, oma dan Michelle sontak menoleh kebelakang, Marsya tersenyum dan duduk disebelah Oma.

“kalau aku tau metode ini bisa membuat tante Amara lebih tenang dan mudah dikontrol pasti aku lakuiin ini dari dulu..” kata kak Marsya ada sedikit penyesalan disuaranya

“ kalau dulu mungkin Paris masih terlalu kecil, agak berbahaya juga kak..’ kata michelle, dia bisa menangkap penyesalan diwajah Marsya. Marsya hanya mengangguk, mereka bertiga menatap Tante amara dan paris yang dengan bermain bunga-bungaan. Oma tidak marah bunganya dipetik. ada sedikit kebahagiaan saat dia menatap wajah tertawa anak perempuannya yang entah kapan terakhir dia melihatnya tertawa bahagia.


Dikamarnya sheilla menatap dari balik jendela. Dia menatap dengan wajah sedih, marah, dan getir. Semua rasa campur aduk dihatinya. Ibunya begitu nyaman saat bersama michelle, bahkan tersenyum, tapi kenapa saat dia dekati, ibunya selalu histeris. Apa sebegitu bencinya ibunya padanya, sampai-sampai dia tak ingin Sheilla mendekatinya, Pikir Sheilla, Ada kerinduan dimata Sheilla, ada amarah dan luka juga disana. Lama dia menatap keluar jendela, dan akhirnya dia beranjak mengambil kunci mobil dan pergi mengendarai mobilnya.

Rangga baru saja tiba diapartemennya, dia merebahkan tubuhnya ke ranjang. matanya terpejam, Hari ini dia tidak melihat Michelle seharian, dia bangun dan mengambil Sketsa gadis dan foto kakanya di samping ranjangnya, dia menatap sendu kedua bingkai itu, tergiang perjalannannya ke rumah masa lalunya dan teringat kembali pembicaraannya dengan Nenek tomo.

“bagaimana kabar ibu kamu??’ tanya sang nenek lagi

“baik nek..” kata rangga tersenyum.

“syukurlah... oohh yaa.. ..setelah kalian pergi ada seorang gadis remaja datang kesini, dia mencari kalian, dia menanggis dan memohon kepada kami untuk memberitahukan keberadaan kalian, saat kami memberitahukan kalau kami tak tau, dia menangis dengan sedih,, nenek sampai sekarang tidak bisa melupakan wajah pilunya waktu itu..” kata sang nenek menerawang jauh..

“siapa??’ tanya rangga sambil mengernyitkan dahinya.

“gadis yang sama dengan yang selalu datang hampir setiap hari,... kalau tidak salah saat itu sebulan setelah  kakak mu meninggal... tapi ibumu tidak pernah membukannya pintu, ..” kata sang nenek , rangga mengernyitkan dahinya.

“....waktu itu kamu diasrama sekolah,. jadi kamu tak tau, saat itu dia tiap hari datang.” kata sang nenek menjawab kebinggungan Rangga, “ itu  gadis yang datang ketika hujan..” tambah nenek itu lagi...  rangga pu akhirnya tau siapa gadis itu.  rangga menatap pilu, pohon mangga didepannya.

Dikamarnya dia menatap sendu kedua bingkai itu airmatanya jatuh,

“kamu tau kak.. sekarang dia sudah jadi gadis yang cantik kak.. malah dia sudah bertunangan dengan seorang pria tampan.. setiap melihatnya, rasanya luka ini begitu perih, menyakitkan, tapi saat tak melihatnya aku malah begitu merindukannya.. apa yang harus aku lakukan kak..??” kata Rangga menatap menundukkan kepalanya dalam.

“aku tak tau,,, apa aku sanggup melaksanakan pesan terakhir kakak dan permintaan ibu,...” kata Rangga begitu getir. Dia makin menundukkan kepalanya dalam.





Bersambung